Ahli Sunnah wal-Jamaah?

Mengapa Dinamakan Ahli Sunnah wal-Jamaah?

Dinamakan Ahli Sunnah karena mereka adalah orang-orang yang berpegang pada sunah Rasulullah saw., yang mengetahuinya, yang mengamalkan tuntunan-tuntunannya, dan yang tunduk pada sabda Rasulullah saw., ”Kalian harus berpegang teguh pada sunnahku.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan Abu Daud, dan oleh yang lain, hadis ini dianggap sahih oleh Al-Albani).
Adapun as-sunnah ialah syara atau agama, dan petunjuk lahir batin yang diterima oleh sahabat dari Rasulullah saw., lalu diterima oleh para tabi’in dari mereka, kemudian diikuti oleh para pemimpin umat dan ulama-ulama yang adil yang menjadi tokoh panutan, dan oleh orang-orang yang menempuh jalan mereka sampai hari kiamat nanti.

Berdasarkan hal inilah, maka orang yang benar-benar mengikuti as-sunnah disebut sebagai Ahli Sunnah. Merekalah yang cocok dengan kenyataan tersebut.

Adapun nama jama’ah, karena mereka berpegang pada pesan Rasulullah saw. untuk setiap pada jamaah atau kebersamaan. Mereka bersama-sama sepakat atas kebenaran, dan berpegang teguh padanya. Mereka mengikuti jejak langkah jamaah kaum muslimin yang berpegang teguh pada as-sunnah dari generasi sahabat, tabi’in, dan para pengikut mereka. Mengingat mereka bersama-sama, bersatu, ikut pada jamaah, bersama-sama taat pada pemimpin mereka, bersama-sama melakukan jihad, bersama-sama tunduk kepada para penguasa kaum muslimin, bersama-sama mengerjakan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, bersama-sama mengikuti sunah, dan bersama-sama meninggalkan berbagai bidah, perbuatan yang terdorong oleh keinginan nafsu, perbuatan yang mengundang perpecahan, maka merekalah jamaah sejati yang mendapat perhatian Rasulullah saw.

Terakhir kita sampai pada sebuah kesimpulan yang konkret bahwa nama dan sifat Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah istilah yang bersumber:

Pertama, dari sunah Rasulullah saw. ketika beliau menyuruh dan berpesan kepada kaum muslimin untuk berpegang teguh padanya, sebagaimana sabda beliau, ”Berpegang teguhlah kalian pada sunahku,” ketika beliau menyuruh dan berpesan kepada mereka untuk setia pada jamaah, dan melarang menentang serta memisahkan diri darinya. Jadi, nama Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah nama pemberian Rasulullah saw. beliaulah yang menyebut mereka seperti itu.

Kedua, dari peninggalan sahabat dan para salafus saleh yang hidup pada kurun berikutnya. Peninggalan tersebut menyangkut ucapan, sifat, dan tingkah laku mereka. Namun, itu sudah mereka sepakati bersama dan menjadi sifat para pengikutnya. Peninggalan-peninggalan mereka itu ada pada karya-karya mereka yang tertulis dalam kitab-kitab hadis dan atsar.

Ketiga, istilah Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah keterangan syariat yang didukung dengan kenyataan yang benar-benar ada. Istilah itu untuk membedakan antara orang-orang yang setia pada kebenaran dari orang-orang yang suka membuat bid’ah dan menuruti keinginan-keinginan hawa nafsu. Ini berbeda dengan anggapan sementara orang yang mengatakan bahwa Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah sebuah nama yang muncul di tengah perjalanan zaman. Namun, ini baru ada setelah terjadi perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Padahal sebenarnya tidak begitu. Itu anggapan yang keliru. Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah istilah atau nama ala syariat yang berasal dari kaum salaf umat Islam. Artinya, ia sudah ada sejak zaman sahabat dan para tabi’in yang hidup pada periode-periode awal Islam.

Mengenai anggapan sementara orang yang sudah menjadi budak nafsu bahwa Ahli Sunnah itu hanya terbatas pada orang-orang salaf mereka saja, dan bahwa yang dimaksud dengan salafus saleh adalah orang-orang yang mengikuti mazhab mereka, itu memang benar. Anggapan tersebut tidak keliru karena salafus saleh memang Ahli Sunnah. Begitu pula sebaliknya, baik ditinjau dari pengertian syariat maupun kenyataannya, sebagaimana yang sudah saya kemukakan di atas. Jadi, siapa saja yang tidak mengikuti mazhab salaf dan tidak menempuh manhaj serta jalan mereka berarti ia telah memisahkan diri dari as-sunnah dan jamaah.

Perlu kita katakan kepada orang-orang sesat yang mengingkari as-sunnah dan para pengikutnya, bahwa itulah yang dimaksud as-sunnah, dan mereka itulah para pengikutnya yang bernama Ahli Sunnah wal-Jamaah. Jika kalian berpaling dan menolak ucapan yang benar ini, kita hanya bisa mengingatkan mereka apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. kepada orang-orang yang berpaling dari seruan dakwahnya, seperti yang tertuang dalam firman Allah Taala (yang artinya), ”Berkata Nuh, ‘Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apakah akan kamu paksakan kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?” (Huud: 28).

Apakah Mereka (Ahli Sunnah wal-Jamaah) Dibatasi oleh Ruang dan Waktu?

Ahli Sunnah wal-Jamaah itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Mereka banyak terdapat di sebuah negara, namun sedikit di negara lainnya. Mereka banyak terdapat pada suatu kurun zaman, tetapi hanya sedikit pada kurun zaman yang lain. Tetapi, yang jelas mereka selalu ada di mana dan kapan saja.

Di tengah-tengah mereka terdapat tokoh-tokoh terkemuka yang menjadi pelita kegelapan dan hujjah Allah terhadap makhluk-Nya hingga hari kiamat nanti. Dan, karena jasa merekalah terwujud janji Allah yang akan menjaga agama ini.

Dengan demikian, jelaslah siapa sebenarnya Ahli Sunnah wal-Jamaah, siapa itu salafus saleh. Pernyataan golongan-golongan tertentu yang mengaku sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah, tetapi ternyata mereka justru memisahkan diri dari as-sunnah dan jamaah, serta menyerang para salafus saleh atau sebagian dari mereka, adalah pernyataan yang ditolak berdasarkan ketentuan-ketentuan syariat, dasar-dasar ilmiah, dan fakta-fakta sejarah.

Demikian pula harus ditolak pengakuan-pengakuan bahwa seluruh kaum muslimin itu setia pada as-sunnah. Pengakuan seperti itu, selain mendustakan berita dari Allah dan Rasul utusan-Nya saw. yang menyatakan bahwa ada perpecahan, juga berlawanan dengan kenyataan yang ada.

Demikian pula dengan pernyataan dan pengakuan-pengakuan lainnya.

Berdasarkan hal itu, sesungguhnya as-sunnah bukanlah partai atau semboyan atau aliran yang dianut secara fanatik. Tetapi, ia merupakan warisan peninggalan nabi, metode yang benar, jalan yang lurus, tali yang kuat, dan jalan orang-orang beriman yang terang seterang siang. Siapa yang berpaling darinya, ia pasti akan celaka.

Berbagai kesalahan dan bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang ahli bid’ah atau oleh orang-orang yang mengaku sebagai Ahli Sunnah, itu sama sekali bukan dari ajaran as-sunnah dan bukan mengikuti manhaj yang benar.

Sumber: Hiraasah al-Aqidah, Nashir ibn Abdul Karim al-Aql
Beri Tahu Teman Anda!

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia