Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

oleh: Ahtam Suwigra

Saat ini di dalam masyarakat kita muncul berbagai persoalan yang sangat memprihatinkan. Beberapa permasalahan yang muncul di masyarakat dan sering kita dengar adalah maraknya pergaulan bebas (free sex), perjudian, narkoba, pornografi dan lain-lain. Munculnya permasalahan tersebut tidak lepas dari lemahnya kontrol masyarakat dan negara terhadap perilaku anggota masyarakatnya.

Masyarakat saat ini seakan tidak peduli dengan kasus diatas dan menganggap perbuatan tersebut merupakan perilaku yang wajar dalam masyarakat modern. Apalagi kondisi perekonomian saat ini mengalami krisis sehingga banyak anggota masyarakat yang hanya memikirkan uang/kekayaan dan tidak peduli lagi terhadap berbagai kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya. Mereka berpikir “cari uang saja susah apalagi mikirin orang lain”. Pola pikir seperti inilah yang membuat seseorang cinta dunia dan melupakan kewajiban untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Tanggung Jawab Seorang Muslim

Sebagai seorang muslim, kita harus menyadari bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan masih ada lagi kehidupan yang abadi yakni kehidupan di akhirat. Hal ini penting agar kita tidak hanya disibukkan oleh kepentingan duniawi dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT kepada kita.

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Yakni menyuruh kepada kebaikan dan mencegah perbuatan merusak (munkar). Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya ditujukan kepada para ulama, kyai, dan muballigh saja. Akan tetapi setiap orang yang mengaku dirinya mukmin dan muslim terkena kewajiban ini. Orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar dalam Islam sangat dimuliakan, dan mereka mendapat jaminan kebahagiaan serta mempunyai kedudukan yang tinggi dari Allah SWT. Karena mereka melanjutkan fungsi serta peranan nabi dan RasulNya. Allah berfirman : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imron: 104).

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan perkara yang penting dalam sebuah masyarakat. Sebab apabila hal ini tidak dilaksanakan akan mendapat murka Allah yang akan menimpa seluruh anggota masyarakat. Allah berfirman : “Dan waspadalah kamu semua dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zholim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfaal : 25). Selain itu banyak Hadits Nabi yang mengisyaratkan dampak tidak dilaksanakannya amar ma’ruf nahi munkar diantaranya adalah :

Dari Ady bin ‘Umairah berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengadzab seluruh masyarakat disebabkan perbuatan sekelompok orang tertentu sehingga masyarakat melihat kemunkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu untuk mengingkarinya (tetapi tidak dilakukan), maka jika mereka berbuat seperti itu, (pasti) Allah mengadzab segelintir orang tersebut dan seluruh masyarakat” (HR. Ahmad).

Dari Hudzaifah bin Yaman, bersabda Nabi SAW: “Demi jiwaku di tangan-Nya, hendaklah kamu semua benar-benar memerintahkan perkara ma’ruf dan mencegah kemunkaran, (atau) Allah akan mendatangkan siksaan bagi kamu sekalian, maka kamu berdo’a kepada Allah dan tidak akan dijawab” (HR. Ahmad, Tirmidzi).

Masyarakat dalam Islam digambarkan bagai satu tubuh yang saling mempengaruhi. Dengan demikian hubungan individu dengan masyarakat bukanlah hubungan yang berlawanan dan saling bertentangan sebagaimana anggapan Barat dengan masyarakat Kapitalisme/civil society/masyarakat madani. Islam memandang masyarakat sebagai hubungan keanggotaan yang bersifat saling melengkapi. Sebab, individu adalah bagian dari masyarakat, seperti halnya tangan merupakan bagian dari tubuh manusia. Sebagaimana tubuh tidak lengkap tanpa tangan, maka tanganpun tidak ada artinya apabila terpisah dari tubuh. Dalam hal ini Islam telah mengatur hak-hak dan kewajiban bagi individu sebagaimana Islam telah mengaturnya pula bagi masyarakat. Hak-hak dan kewajiban tersebut bukan saling bertentangan ataupun berlawanan tetapi saling melengkapi.

Berkaitan hal diatas, Sabda Rasulullah SAW memberikan gambaran hubungan antara individu dan jama’ah dalam masyarakat Islam, “Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan melanggarnya adalah seperti kaum yang diundi dalam sebuah kapal. Sebagian mendapat bagian atas dan sebagian yang lain berada di bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang berada diatasnya. Maka berkatalah orang-orang yang berada di bawah: ‘Andai saja kami melubangi (dinding kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami.’ Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), niscaya binasalah seluruhnya. Dan jika mereka dicegah melakukan hal itu, maka ia akan selamat dan selamatlah semuanya.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi).

Adapun mengenai pelaksanaan Amar ma’ruf nahi munkar, tidak menghalalkan segala cara sebab pemikiran amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian dari syari’at Islam, dia tidak babas nilai, melainkan harus merujuk kepada sumber Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, baik dari segi tujuan, cara, sistem maupun segala sesuatu yang terkait dengannya.

Dalam masyarakat Islam (masyarakat yang di dalamnya diberlakukan hukum Islam), anggota masyarakat yang bukan diangkat oleh negara sebagai pelaksana peradilan tidak boleh mengeksekusi orang sembarangan. Rasulullah SAW mengatakan, “Barangsiapa melihat kemunkaran hendaknya merubah dengan tanganya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, namun itu adalah selemah-lemahnya iman.” Pemerintahan Islam wajib menindak kemungkaran dengan kekuasaan peradilan dan militer/kepolisian, karena memiliki syarat kekuatan yang sah menurut hukum syar’i. Sedangkan para ulama dan rakyat biasa hanya boleh bertindak sebatas kemampuannya, yaitu dengan lisannya dengan bersaksi di peradilan dan sebagainya, dan kalau tidak berani harus mengingkari dengan hati untuk mempertahankan keimanannya. Sehingga tidak boleh terjadi peradilan rakyat: dieksekusi ramai-ramai, anarkisme dan sebagainya.

Dengan demikian sudah jelas, bahwa Islam mengatur hubungan antar individu dan masyarakat dan metode amar ma’ruf nahi munkar agar tercipta suatu masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Wallahu ‘alam bis Showab