Bagaimana Belajar MenSyukuri Ni’mat Dari Allah?

Syukur ni’mat
Jika kalian mensyukuri ni’mat-Ku maka Aku (Allah) akan menambahkan nimat itu kepadamu. Jika kalian mengingkari ni’matku maka ketahuilah bahwa azabku amatlah pedih. (QS. Ibrahim [14]: 7 )

Bila kita jujur menilai bahwa ternyata hingga detik ini kita manusia hanya sebatas mampu merekayasa yaitu merubah dari suatu bentuk materi kebentuk materi yang lain. Itupun rekayasa yang masih sangat terbatas, dimana tidak hanya memberikan nilai positif dari hasil rekayasa tersebut tetapi sering pula memberikan dampak negatif. Praktis hingga detik ini sunnatullah yang diklaim sebagai hukum Newton yaitu hukum kekekalan massa dan energi bahwa massa dan meteri tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, hanya dapat dirobah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, semakin tidak terbantahkan.
Manusia belum dan tidak akan mampu mencipta dari tidak ada menjadi sesuatu. Manusia hanya mampu merubah sesuatu materi/energi ke bentuk meteri/energi yang lain. Teknologi Jepang misalnya mampu membuat mobil toyota tetapi mereka tidak dapat meciptakannya, sebab mobil tersebut diolah dari bahan logam/besi dan materi lainnya dimana bahan-bahan tersebut bukanlah mereka yang menciptakannya melainkan telah tersedia sebagai bahan baku di alam. Ahli kimia pandai memproduksi air dengan cara oksidai hidrogen sebagai berikut :
H2 + ½ O2  H2O (air)
tetapi sang Chemyst tersebut tidaklah dapat menciptakan air sebab air terbentuk dari unsur hidrogen dan oksigen yang bukan ciptaan sang chemyst melainkan telah tersedia sebagai bahan baku di alam.
Manusiapun tidak akan mampu memusnakan sesuatu menjadi kosong. Kiranya tidak disalahpahami bahwa ketika kita membakar seonggok sampah dan karenanya sepintas onggokan sampah tersebut nampak punah. Sebetulnya tidaklah berarti onggokan sampah itu punah seluruhnya atau sebagiannya, melainkan materi sampah tersebut hanyalah berubah wujud menjadi gas-gas hasil pembakaran antara lain berupa gas CO, CO2 yang bergabung ke udara bebas disamping berubah wujud menjadi sisa-sisa pembakaran berupa arang/abu. Ketika kita membakar sejumlah benzin bahkan tidak menyisakan sebutir abu, tetapi sekali lagi bahwa tidaklah berarti benzin tersebut menjadi punah seluruhnya melainkan hanya berupa wujud menjadi gas hasil pembakaran di udara berupa CO, CO2 dan H2.
Dengan demikian sesungguhnya kita manusia tidaklah memiliki kehebatan untuk mampu mandiri sepenuhnya memenuhi kebutuhan hidupnya barang sedetik sekalipun. Kita tidak dapat menciptakan sendiri makanan (nasi) melainkan kita hanya dapat sebatas menanam padi, memanenya, menggilingya menjadi beras dan memasaknya menjadi nasi. Tetapi bahan baku dasar benih padi dan semua bahan-bahan penunjang berupa unsur-unsur air, tanah dan udara serta energi selama proses pertumbuhan padi hingga menjadi nasi siap dimakan semuanya telah tersedia sebagai bahan baku di alam, diciptakan oleh sang Khaliq Allah SWT.
Maka masih patutkah kita manusia berbangga, congkak dan sombang numpang hidup di planet bumi-Nya Allah SWT ?. Sungguh tidak dapat dibayangkan sekiranya Allah SWT tidak berkenan menyediakan berbagai fasilitas hidup berupa bahan baku atau bahan mentah, bahan setengah jadi bahkan sampai bahan jadi yang cukup melimpah untuk masa waktu yang tidak terkirakan. Semakin esensil bahan tersebut bagi kehidupan manusia maka semakin melimpah pula disiapkan Allah swt secara gratis. Sebutlah antara lain kebutuhan hidup yang sangat esensil berupa air, unsur tanah dan udara untuk pernapasan, semuanya telah disediakan Allah secara melimpah lagi gratis bukan ?.
Silahkan direnungkan betapa pemurah-Nya Allah SWT telah menyediakan bahan baku sakaligus bahan jadi berupa air yang terkandung dalam tanah, terhampar di lautan, sungai dan danau serta tercurahkan dari langit dalam bentuk air hujan. Sulit dibayangkan betapa mahal harga air untuk kebutuhan minum, mandi dan mencuci sekiranya seluruh penduduk bumi ini hanya dapat memperoleh air dengan jalan produksi sendiri melalui rekayasa reaksi dari bahan materi lainnya seperti reaksi di atas.
Renungkan pula betapa pemurah-Nya Allah SWT telah menyediakan bahan pernafasan oksigen (O2). Siapakah yang mampu mebeayai hidup pernafasannya sekiranya bahan oksigen tersebut tidak tersedia dalam bentuk bahan jadi yang terhampar bebas melimpah di udara, sehingga harus diproduksi sendiri atau dibeli ratusan sampai ribuan liter perhari. Jangan lupa bahwa kebutuhan oksigen tidak mungkin ditunda ¼ minit sekalipun untuk pernafasan.
Berdasarkan fakta-fakta yang telah diuraikan di atas hendaknya telah dapat mengantarkan manusia kepada suatu kesadaran sejati bahwa bagaimanapu kehebatan manusia berfikir dan berbuat, toh manusia tidak memiliki daya dan upaya untuk mencipta. Manusia tidak dapat menjamin kelangsungan hidupnya selama sedtik sekalipun, sekiranya bahan dasar penunjang hidupnya harus diciptakannya sendiri.
Kesadaran yang lebih utama lagi dimiliki adalah pengakuan mutlak adanya sang Khaliq (Pencipta) yang pada-Nyalah segala daya dan upaya bersumber. Dialah Allah SWT, tiada Tuhan selain Dia, dengan sifat maha Bijaksana dan Pemurah-Nya telah memberikan ni’mat matriil, menyediakan segala bahan kebutuhan hidup hambanya terutama manusia.
Dari kesadaran di atas hendaknya melahirkan kesadaran berikutnya bahwa sudah sangat sewajarnyalah setiap manusia dengan ikhlas untuk senantiasa berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhannya. Demikianlah yang dingatkan Allah SWT di dalam Al-Qur’an sebagaimana pada ayat pembukaan di atas. Dari janji Allah dalam ayat di atas bahkan seharusnya semakin berlipat ganda rasa syukur manusia, sebab betapa tidak bahwa ketika kita menyukuri satu ni’mat Allah SWT maka Dia-pun menambahkan lagi ni’mat itu baik dalam bentuk ni’mat yang sama maupun dalam bentuk ni’mat yang lain, baik dalam waktu yang spontan maupun dalam waktu yang tertunda.