Hukum Asuransi Dalam Islam

Hukum Asuransi Dalam Islam
Indonesia – Indonesian – 

Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa
Terjemah :Muhammad Iqbal A.Gazali
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad
2010 – 1431

Hukum Asuransi Dalam Islam
Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa
Pertanyaan: Saat ini muncul beberapa perusahaan asuransi, dan
semuanya berkata sesungguhnya ada fatwa yang membolehkan asuransi. Dan
sebagian perusahaan asuransi tersebut mengatakan: Sesungguhnya harta yang
engkau bayar untuk asuransi mobilmu akan dikembalikan saat menjualnya.
Apakah hukumnya aktivitas asuransi tersebut? Semoga Allah subhanahu wa
ta’ala memberikan balasan kebaikan kepadamu.
Jawaban: Asuransi ada dua yaitu asuransi (ta’min) ta’awuni dan asuransi
konvensional (biasa) dan Majelis Lembaga Para Ulama Besar telah
mempelajarinya sejak beberapa tahun yang lalu dan menerbitkan keputusan
tentang hal tersebut. Akan tetapi kebanyakan manusia menjadi samar atasnya di
antara yang boleh dan haram, atau sengaja membolehkan terhadap yang
diharamkan sehingga menjadi samar terhadap manusia.
Asuransi ta’awuni (tolong menolong) yang boleh seperti, sekelompok orang
berkumpul dan memberikan sejumlah harta tertentu untuk sedekah, atau
membangun masjid, atau menolong orang-orang fakir. Kebanyakan orang
menggunakan ini sebagai dasar dan menjadikannya sebagai hujjah bagi mereka
dalam asuransi konvensional. Dan ini merupakan kesalahan mereka dan
menyamarkan kebenaran terhadap manusia.
Dan contoh asuransi konvensional adalah seseorang mengasuransikan
mobilnya atau barangnya (dari kecelakaan, musibah) atau yang lainnya.
Terkadang tidak terjadi sesuatu, maka hartanya diambil (tanpa imbalan apaapa).
Dan ini termasuk perjudian yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan. (QS. al-Maidah:90)
Kesimpulan: Sesungguhnya ta`min ta’awuni adalah sesuatu yang
dikumpulkan oleh sekelompok manusia dan mereka menyumbangkan dengan
jumlah tertentu untuk tujuan syar’i, seperti menolong orang-orang fakir, anakanak
yatim, membangun masjid dan jalan-jalan kebaikan lainnya.
Berikut ini kami berikan kepada pembaca teks fatwa Lajnah Daimah
Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa sekitar asuransi konvensional dan ta`min
ta`awuni yang mulia:
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala Rabb semesta alam, shalawat
dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad shalalllahu
‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Sesungguhnya sudah pernah terbit keputusan dari Haiah Kibar Ulama
tentang haramnya asuransi konvensional dengan berbagai jenisnya, karena
mengandung bahaya dan resiko tinggi, serta memakan harta manusia dengan
cara yang batil. Hal itu termasuk perkara-perkara yang diharamkan oleh syari’at
yang suci dan melarangnya dengan larangan yang tegas. Sebagaimana Hai’ah
Kibar, Ulama juga telah menetapkan bolehnya ta’min ta’awuni yang merupakan
sumbangan dari para dermawan dan ditujukan untuk menolong orang yang
membutuhkan dan mendapat musibah, dan tidak kembali sedikitpun untuk
para peserta (tidak dari modalnya, tidak dari keuntungan dan tidak pula sesuatu
yang kembali sebagai investasi) karena tujuan para peserta adalah untuk
mendapat pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan menolong orang yang
membutuhkan dan tidak ada tujuan duniawi sama sekali. dan hal itu termasuk
dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. al-
Maidah:2)
Dan termasuk dalam sabda Nabi :

“Dan Allah subhanahu wa ta’ala selalu menolong hamba-Nya selama
hamba itu menolong saudaranya.”1
Ini sangat jelas, tidak ada masalah padanya. Akan tetapi akhir-akhir ini muncul
penyamaran dari beberapa lembaga dan perusahaan terhadap calon nasabah
dan memutarbalikkan fakta, di mana mereka menamakan ta’min tijari (asuransi
konvensional) sebagai ta’min ta’awuni, dan mereka menyandarkan pendapat
bolehnya kepada Hai’ah Kibar Ulama untuk menipu manusia dan propaganda
terhadap perusahaan mereka, sedangkan Hai’ah Kibar Ulama berlepas diri
tindakan ini, karena keputusannya sangat jelas dalam membedakan di antara
ta’min tijari dan ta’min ta’awuni, dan mengubah nama tidak bisa mengubah
hakikat yang sebenarnya. Dan untuk menjelaskan kepada manusia dan
mengungkap kepalsuan dan kebohongan terbitlah penjelasan ini. semoga
shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad shalalllahu
‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa 15/268-269
1 HR. Muslim 2699.