Metode Memahami Islam Otentik

Lembaran Dakwah :
Metode Memahami Islam Otentik
Manusia senantiasa berusaha untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran yang hakiki. Namun berapa banyak di antara mereka yang tidak mampu meraihnya, meskipun mengira dirinya telah mendapatkan hakikat kebenaran itu. Bahkan orang-orang yang mengaku “Akhirnya kutemukan kebenaran” ternyata juga tertipu oleh pengakuannya sendiri. Namun bukan berarti tak ada lagi kebenaran yang tersisa di kolong langit ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak akan membiarkan seluruh manusia tersesat begitu saja tanpa ada petunjuk dan disamping itu manusia dibekali fithrah yang cenderung kepada kebenaran. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam pernah bersabda:”Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakannya, sampai datang perkara Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu” (HR.Muslim 3/1523).
Kita kaum muslimin meyakini bahwa sumber kebenaran yang hakiki adalah wahyu dari Tuhan Semesta Alam (Zabur yang dibawa oleh Nabi Daud ‘Alaihissalaam , Taurat oleh Nabi Musa ‘Alaihissalaam , Injil oleh Nabi Isa ‘Alaihissalaam , dan Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam) dan sabda para nabi dan rasul tersebut. Dan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang terakhir dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam – nabi yang terakhir – berlaku hingga hari kiamat dan untuk seluruh manusia di permukaan bumi ini. Yang jadi persoalan sekarang, banyak kaum muslimin yang tidak menempuh metode (cara) yang benar dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam, sehingga banyak penyimpangan yang terjadi di tubuh kaum muslimin.
Penyimpangan-penyimpangan
Salah satu kesalahan yang sangat berbahaya adalah anggapan bahwa Al-Qur’an itu bagaikan berlian yang mempunyai banyak sudut dan memancarkan sinar yang berbeda-beda, sehingga kita dapat melihat Al-Qur’an itu dari berbagai sudut pandang dan kita bebas menginterpretasikannya. Anggapan seperti itu sama sekali tidak mempunyai dasar dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Bukanlah makna Al-Qur’an yang universal, namun kandungannyalah yang universal. Al-Qur’an berbicara tentang segala hal, tentang penciptaan alam semesta dan manusia, hubungan manusia dengan tuhannya, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, kisah-kisah orang terdahulu, alam ghaib, hari kemudian, dan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan di dunia dan di akhirat. Oleh karena keuniversalan Al-Qur’an bukan pada makna tetapi pada kandungan, maka sangat tidak pantas memahami Al-Qur’an itu dari mana saja kita melihatnya, akan tetapi harus dikembalikan kepada orang yang dipilih untuk menyampaikannya yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam, karena beliaulah yang paling memahami maksud ayat-ayat Al-Qur’an.
Ada seorang doktor dari perguruan tinggi Islam negeri dalam khutbahnya pada hari Jum’at (26 Juli 2001) mengakui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam adalah orang yang paling tahu tentang Al-Qur’an, akan tetapi doktor tersebut mengatakan bahwa kita boleh menginterpretasikan Al-Qur’an dari sudut pandang (bidang) yang berbeda. Lebih parah lagi beliau mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan yang muncul akibat interpretasi yang bermacam-macam itu, harus dianggap sebagai rahmat. Ini adalah ketololan yang luar biasa dan sangat berbahaya. Untuk apa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam diutus kalau bukan untuk dijadikan patokan dalam memahami ayat-ayat Allah ??.
Satu lagi kekeliruan kaum muslimin saat ini (di Indonesia) adalah lebih senang dan bangga menuntut Islam di negeri-negeri yang begitu jauh dari sumber Islam itu sendiri. Anak SD pun tahu bahwa air yang kita dapatkan di hulu pasti berbeda dengan air di hilir apalagi di muara karena mengalami polusi. Begitu pula dengan ajaran Islam ini, apabila kita mengambilnya di tempat yang sangat jauh dari sumbernya tanpa menyaring dan mencocokkannya dengan yang ada di tempat munculnya Islam itu sendiri, maka insya Allah kita akan banyak menuai berbagai penyimpangan. Menurut Hartono Ahmad Jaiz dalam tulisannya di Majalah Media Da’wah, bahwa ini adalah program Yahudinisasi. Sarjana muslim dibelajarkan di negeri-negeri kafir dengan dalih “studi Islam”, akan tetapi yang dipelajari di sana hanya tasawuf melulu, hingga akhirnya mereka pulang ke sini (Indonesia) membawa pemikiran universalisme dengan slogan “millah Ibrahim” yang intinya bahwa kaum muslimin tidak boleh mengklaim sebagai pemeluk agama yang paling benar, semua agama benar. Sungguh merupakan pencucian otak besar-besaran. Mereka bangga dengan gelar yang mereka dapatkan di luar negeri. Kasihan !
Islam yang Otentik
Tak diragukan lagi bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam adalah para sahabat beliau, karena merekalah yang menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat. Selain itu mereka mendapat gemblengan langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam sekaligus menyaksikan bagaimana beliau mengaplikasikannya. Kemudian yang paling mengerti tentang Al-Qur’an dan Hadits setelah sahabat tentunya murid-murid para sahabat (tabi’in) dan setelah itu adalah murid-murid para tabi’in (tabi’it tabi’in). Inilah tiga generasi yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:”Dan generasi yang terdahulu dan pertama-tama (masuk Islam) di antara kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah rihdo kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan itulah kemenangan yang agung”(QS. At-Taubah:100). “Kalian adalah ummat yang terbaik yang telah ditampilkan untuk manusia….”(QS.Ali Imran:110). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Aalihi Wasallam juga memuji mereka dalam sabdanya :
:”Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya. Kemudian akan datang suatu kaum yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya” (HR.Bukhari, Muslim, dan Imam Ahmad).
Kriteria baiknya suatu peradaban sangat relatif tergantung dari sudut pandang masing-masing. Bagi orang yang cenderung kepada materialisme, mereka akan memandang bahwa peradaban yang terbaik adalah ketika suatu bangsa telah mencapai kemajuan di bidang materi dengan membangun gedung-gedung pencakar langit, pesawat terbang, penjelajahan ruang angkasa, dst.. Bagi orang yang cenderung kepada sosialisme akan menyatakan bahwa suatu bangsa dikatakan maju apabila telah terjadi distribusi kekayaan – meskipun yang terjadi adalah distribusi kemiskinan – . Bagi kaum feminisme, kemajuan suatu bangsa diukur sejauh mana peran wanita dalam berbagai sektor kehidupan. Bagi pengikut hawa nafsu akan memandang peradaban itu baik ketika wanita-wanita telanjang dan terjadi pergaulan bebas. Jadi sangat tergantung cara pandang setiap orang.
Dalam setiap organisasi yang memiliki tujuan tertentu, tingkat keberhasilannya akan selalu mengacu kepada sejauh mana organisasi tersebut mencapai tujuannya. Begitu pula dalam Islam, baik tidaknya peradaban manusia itu tergantung pada tingkat pemenuhan tujuan penciptaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (QS.51:56). Dengan demikian jelas bagi kita bahwa sebaik-baik kehidupan manusia adalah ketika dia memenuhi tujuan diciptakannya yakni beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala fasilitas hidup yang dimiliki (tubuh, harta, waktu, kekuasaan, dll.) semuanya diarahkan untuk mengabdi kepada Yang Maha Kuasa. Dan ini telah dibuktikan oleh sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Mereka telah mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk mengabdi kepada Allah. Nyawa, harta, waktu, bahkan keluarga, mereka korbankan untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.
Oleh karena itu, kita yang mengaku muslim baik secara pribadi maupun secara kolektif (perguruan tinggi Islam) kalau ingin mendapatkan Islam yang masih otentik, mau tidak mau harus memahami Al-Qur’an dan Sunnah (hadits) berdasarkan pemahaman Salafus Shaleh (pendahulu-pendahulu yang shaleh), Salaful Ummah (pendahulu ummat ini), mereka adalah sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Merekalah yang paling memahami dan paling banyak mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang hidup manusia.
Sangat menyedihkan ketika kaum muslimin saat ini yang sok maju, sok intelek begitu alergi dengan kajian-kajian klasik dalam memahami Islam ini. Mereka hanyut dalam wacana “pencerahan, pembaharuan, kebebasan berpikir,dsb yang ujung-ujungnya menjauhkan kaum muslimin dari Al-Qur’an dan Sunnah. Perlu diketahui bahwa dalam pengambilan sumber ilmu pengetahuan, ilmu syar’i (agama) harus dibedakan dengan ilmu pengetahuan alam, karena ilmu pengetahuan alam digali dan diteliti dengan akal manusia. Oleh karena itu teori-teori tentang ilmu pengetahuan alam, yang paling mutakhirlah yang lebih sempurna. Lain halnya dengan ilmu agama, yang paling sempurna dan otentik adalah yang paling klasik (awal) karena ilmu agama bukan hasil pemikiran manusia, akan tetapi ia adalah wahyu dari Pemilik kehidupan ini – berlaku dan tetap relevan sepanjang zaman dan di semua penjuru alam semesta ini.- dan sama sekali tidak membutuhkan pembaharuan dari pemikiran manusia.
Dengan demikian, kebenaran yang hakiki (kandungan Al-Qur’an dan Sunnah) – Islam yang otentik – tidaklah dapat dipahami dengan metode filsafat yang berlandaskan pada akal semata, – filsafat hanya cocok untuk menggali ilmu pengetahuan alam – akan tetapi harus digali dari pemahaman generasi awal Islam ini. Inilah manhaj (metode) Ahlus Sunnah wal Jama’ah – pengikut Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus shaleh – dalam menuntut ilmu syar’i, mengamalkan, dan mendakwahkannya menuju kebangkitan Islam yang hakiki. Imam Malik pernah berkata bahwa:”Tidak akan baik generasi akhir ummat ini kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awal ummat ini.”
Wallahu A’lam.