UKM: Bisnis Budidaya Ternak Udang

Sebagai salah satu produk perikanan yang target produksi untuk keperluan ekspor tiap tahunnya selalu tinggi, ternak udang berpeluang sebagai bisnis UKM.

Di China saja, permintaan impor udang dari Indonesia mencapai satu ton tiap tahunnya. Negara tujuan ekspor lainnya adalah Jepang, Eropa dan Amerika. Sementara itu, pada 2010 jumlah produksi udang masih belum mencukupi kebutuhan pasar. Dari total permintaan sebesar 400.300 ton, produksi udang baru bisa terpenuhi sebanyak 352.600. Itu artinya, jika memilih beternak udang sebagai bisnis UKM, untuk tahun ini masih ada peluang pasar yang belum terpenuhi sebanyak 47.700 ton.

Jumlah produksi yang meleset jauh ini dimungkinkan karena masih banyaknya pelaku bisnis UKM pembudidaya udang yang belum menerapkan sistem ketat dalam proses pembenihan maupun pembesarannya. Akibatnya produksi udang pun tidak sesuai yang diharapkan.

Beberapa kendala yang kerap dihadap dalam bisnis UKM budidaya udang ini adalah serangan virus. TSV atau Taura syndrome virus misalnya, merupakan virus yang menjadi momok bagi pengusaha udang. Sebab virus ini menyerang pada bulan-bulan pertama penyebaran benih. Kematiannya bisa mencapai lebih dari 90 persen, kerugian besarpun tak bisa ditampik. Jika hal ini terjadi maka hipotesa pada kasus bisnis UKM ini adalah virus TSV tersebut berasal dari indukan. Indukan yang terinfeksi virus bisa menjadikan hampir semua anakannya ikut terinfeksi virus yang terdapat dalam indukan. Itulah mengapa guna memenuhi target ekspor tahun ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia mewajibkan agar menggunakan indukan udang yang telah tersertifikasi.

Lain halnya jika kematian sebelum 40 hari dari penebaran itu menyerang hingga 60 persen saja. Hipotesa sementara dari kasus bisnis UKM ini adalah infeksi disebabkan karena pengaruh lingkungan yang kurang bersih.

Disamping pentingnya pengetahuan terhadap kendala usaha seperti serangan virus dan penyakit, pengelola bisnis UKM pun dalam memilih jenis udang harus mempertimbangkan selera pasar. Dengan membandingkan antara udang windu dan udang galah misalnya, meski udang windu bisa dijual dengan harga yang lebih mahal, untuk tujuan ekspor bisa jadi justru udang galah yang laris manis di pasar ekspor. Pentingnya nilai nutrisi yang terkandung dalam udang tak jarang menjadi pertimbangan utama di pasar internasional. Oleh karenanya, dalam melakukan bisnis UKM ini, perlu dilakukan riset apakah benar udang galah lebih disukai karena kandungan steroidnya, atau justru udang windu yang menjadi favorit karena ukurannya yang lebih besar dari udang galah.

Dalam budidaya udang, dikenal dua jenis usaha, yakni usaha pembenihan dan usaha pembesaran udang. Keduanya sama-sama berpotensi sebagai bisnis UKM yang menguntungkan asalkan tahu bagaimana memproduksi udang dengan baik serta pintar mencari jaringan pemasaran.

Selamat Mencoba!!!!