IHSG Sukses menguat ke Index

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia atau BEI kembali bangkit setelah terperosok ke zona merah selama empat hari terakhir ini.

Pada penutupan petang ini, Jumat (23/9/2011), indeks akhirnya ditutup pada level 3.426 atau menguat 57,2 poin (sekitar 1,7 persen), padahal sehari sebelumnya sempat anjlok 8,97 persen.

Penguatan ini melanjutkan tren yang sudah terbentuk sejak pagi hingga penutupan sesi I siang tadi. Pada penutupan sesi siang, indeks bertengger di level 3.394,7 atau menguat tipis 25,6 poin setara 0,76 persen. Indeks masih sempat terperosok ke level terendah pagi tadi dilevel 3.258, namun kemudian terangkat kembali di atas level 3.400.

Beberapa saham yang diperdagangan paling aktif hari ini antara lain NIKL dengan 5.592 transaksi, PGAS dengan 5, lalu BBRI dengan 4.976 transaksi , ASII teraktif keempat yakni 4.671 transaksi, dan kelima BMRI dengan 4.671 transaksi. Selain menjadi saham yang paling aktif diperdagangangkan, PGAS, BBRI, ASII, dan BMRI juga termasuk penyumbang terdorongnya kembali bursa memasuki zona hijau hari ini.

Saham-saham ini juga memberikan kontribusi pada penguatan Indeks Kompas-100 yang pada penutupan sore tadi ada di level 763,9 atau menguat 8,95 persen. Begitu juga dengan Indeks LQ-45 yang berada di posisi 587,79 atau menguat 9,59 persen.

Meski terjadi pembalikan hari ini, pantauan Kompas terhadap perangkat teknikal sore hari ini menunjukkan bahwa indeks sebenarnya masih ada pada tren penurunan harga.

Demikian yang disajikan perangkat Average Directional Movement Index (ADX). Ini ditunjukan dengan masih menurunnya posisi pergerakan indikator +DI yang pada perdagangan sore ini ada di level 10,14. Sebaliknya, indikator -DI justru meningkat di level 43,83 yang mengindikasikan bahwa kenaikan indek belum menunjukkan gejalanya.

Penguatan di BEI bergerak tidak searah dengan perlemahan yang justru dialami oleh bursa-bursa di Asia. Hingga penutupan sore tadi, sebelas bursa di Asia yang terpantau Kompas tetap melemah.

“Pasar menetapkan harga dengan dasar resesi. Saham terlihat sangat murah, namun masih butuh waktu dan usaha untuk mempercayainya. Kondisi ini bisa mengarah ke arah pemburukan. Risiko gagal bayarnya utang pemerintah Yunani adalah perhatian utama dan signifikan kami saat ini,” ujar Kepala Investasi Nikko Asset Management Co yang berbasis di Singapura, Ng Soo Nam.