Pasar saham dan Valas

Bank Indonesia (BI): Pasar Saham Paling Besar Terimbas Krisis Global. Sentimen negatif akibat krisis ekonomi global terhadap Indonesia berdampak paling besar ke pasar saham.

Koreksi harga saham terjadi di hampir seluruh sektor. Utamanya di sektor pertambangan, perdagangan, dan pertanian. Kendati demikian, koreksi IHSG relatif lebih kecil dibanding kawasan Asia.

“Meskipun lebih besar dibanding Malaysia, Filipina dan China,” kata Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Perry Warjiyo dalam Seminar Nasional bertajuk Krisis Keuangan AS dan Eropa serta dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia, Senin (19/9/2011).

Data terbaru yang dipaparkan BI menunjukkan dalam sebulan terakhir indeks pasar saham dunia terkoreksi 10,4 persen. Asia terkoreksi 14 persen, Jepang terkoreksi 12,1 persen, Hongkong terkoreksi 13,3 persen, Malaysia terkoreksi 5,1 persen, Filipina terkoreksi 3 persen, Thailand terkoreksi 7,7 persen, Vietnam terkoreksi 2,2 persen, sedangkan Indonesia terkoreksi 6,96 persen.

Selain pasar saham, sentimen negatif juga menekan pasar obligasi pemerintah (SBN). Namun, penjualan SBN oleh asing relatif lebih kecil dan mampu dibeli pelaku domestik. Khusunya, oleh perbankan dalam negeri. “Itu sebabnya, yield SBN tidak mengalami kenaikan signifikan,” ujar Perry.

Ia menambahkan, dibandingkan kawasan sekitar, yield SBN masih relatif menarik investor asing. Namun, Perry mengingatkan porsi asing yang lebih besar dibandingkan kawasan perlu terus diwaspadai.

Yield SBN Indonesia saat ini sebesar 6,8 persen, lebih tinggi dibandingkan angka inflasi. Di kawasan ASEAN, yield obligasi pemerintah Indonesia ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia (3,6 persen), Filipina (6 persen), dan Thailand (3,4 persen). Adapun yield obligasi pemerintah di Vietnam mencapai 12,6 persen atau tertinggi di ASEAN. Akan tetapi, inflasi Vietnam paling tinggi di antara negara-negara ASEAN.